Kumpulan Cerpen

Kamboja

Cerpen: Mohamad Joharudin

ANGIN selalu menyapu dedaunku. Disini, diatas dataran tanah lembab ini tak ada waktu secuilpun kecuali keheningan. Tak pernah sejenak pun berhenti menebarkan bebunga pucat pada rotasi bulan dan matahari. Pergantian musim tahun ini terasa terlalu lama. Kemarau memakan sebagian dahanku.
Sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Tempat menaungku selalu saja seperti pasar. Banyak tetamu berkunjung. Sudah pasti, mereka adalah keluarga yang menengok kerabatnya. Sebuntal bunga campur berbau menyengat mereka siapkan. Posisiku di atas mereka praktis, aku bisa menciumnya meski dibungkus plastik hitam.
Dengan cepat, beberapa orang berpakaian hitam itu mulai mencabuti rumput di sebuah kuburan yang selalu terawat. Dibalik nisan menggurat, “Ahmad Johny Lee” lahir, Semarang 3 Desember 1943, wafat Cirebon 24 Mei 1993. Bebunga pucatku yang selalu aku taburkan mereka bersihkan. Ketiga orang itu, kemudian duduk disisi kuburan itu.
Sekitar beberapa menit tak ada obrolan. Mereka termangu. Perempuan setengah baya yang saya hitung sudah sepuluh kali di tahun 2002 ini mulai menitikkan air mata. Dua orang lainnya tak menitikkan air mata meksipun tampak khusyuk seperti sedang berdoa.
Setelah semua mengatupkan kedua tangannya dan mengusapkan ke wajahnya masing-masing, salah seorang perempuan muda berusia 23 tahun berkulit kuning dan bermata agak sipit itu mulai membuka bunga campur. Perempuan setengah baya yang usianya mungkin belum genap 40 tahun mendapat kesempatan pertama menaburkan bunga diatas pusara dari marmer warna biru. Ia taburkan bunga, sejurus kemudian ia keluarkan saputangan dari saku bajunya dan diusapkan ke pipinya yang dilukis guratan air matanya, membelahi pipinya yang putih.
Dilanjutkan oleh perempuan muda, dan pria muda berkulit sawo matang dan berkacamata hitam. Selesai menaburkan bunga ketiganya kelihatan seperti akan bergegas. “Ayo Mah, sudah mulai sore jangan sampai kita kemalaman dijalan kita sudah janji ketemu dengan Om Harry di Bandung. Sudah tiga hari dia nunggu mamah sejak kepulangannya dari Singapore,” ajak perempuan muda yang dipanggil Amei oleh perempuan setengah baya dan lelaki muda itu.
Perempuan setengah baya itu sepertinya merasa berat untuk mengangkat kakinya. “Sebentar Mei, mamah mau berdo’a lagi untuk papahmu. Dipenghujung bulan Ramadhan ini semoga do’a mamah bisa dikabulkan Tuhan. Karena mungkin saja bulan Ramadhan nanti mamah tak bisa lagi mendo’akan papahmu,” ujar perempuan setengah baya itu.
“Ah mamah seperti orang yang mau meninggal saja. Kan Mamah sudah bilang, setelah sembilan tahun hidup sendiri Mamah mau mulai hidup baru dengan Om Harry teman papah yang menunggu mamah sudah beberapa tahun ini semenjak istrinya meninggal,” kata Amei sambil memegangi pundak ibundanya.
Perempuan setengah baya itu pun tetap tidak mau beranjak. Di kembali duduk bersimpuh. Menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kelihatannya, dia sedang berbisik dalam hatinya. Tapi aku yang berjarak kurang dari dua meter tetap bisa mendengarnya. “Pah semenjak pernikahan kita 24 tahun lalu, saat usiaku baru belasan tahun, engkau selalu sabar membimbingku. Pah, bukannya aku tidak setia kepadamu hingga aku akan menikah dengan Mas Harry. Tapi anak-anaknya yang ditinggal mati ibunya dan terlanjur dekat denganku membutuhkan bimbingan seorang ibu. Ya Allah, Tuhanku ampunilah segala dosa suamiku, berikanlah nikmat kubur untuknya, ampunilah seluruh dosa-dosanya wahai Tuhan maha pengampun,” gumam perempuan itu.
**
Akupun bisa melihat dengan jelas bayang-bayang dalam benak perempuan setengah baya itu. Seketika itu juga melintas wajah teduh berwibawa. Kukira aku masih mengingatnya, wajah itu serupa dengan wajah orang yang kini dibawah naunganku sembilan tahun silam. Namun, dalam bayangan benak perempuan itu, wajah tersebut tampak lebih muda dan gagah. Demikian pula sekilas bayangan seorang perempuan cantik berhada-hadapan dengan bayangan lelaki itu. Lagi-lagi aku bisa mengenalnya.
Tak lain wajah itu menyerupa perempuan di depanku ini. Hanya ada sedikit perbedaan saja. Yaitu gurat-gurat wajahnya. Namun kecantikannya hingga kini pun masih terjaga. Aku kira wajar saja, jika sepeninggal suaminya banyak yang menantikannya. Termasuk itu si Om Harry seperti yang disebutkan Amei. Mungkin saja, jika Tuhan menciptakan aku sebagai manusia laki-laki aku pun tak kuasa untuk menjadi orang yang sama-sama akan mengharapkan perempuan itu.
Meski demikian, aku tetap bisa bersyukur karena aku tetap menjadi bagian dari kehidupan. Dipedulikan ataupun tidak. Aku tetap bertugas disini. Menjaga dan menyejuki orang-orang yang akan pulang dan menghadap Tuhan.
Pada tempat dimana aku tidak pernah bisa menduga kapan tamu baruku akan datang kemari-sekaligus akupun tidak bisa menanyakan kepada siapapun siapakah orang yang akan datang kesini. Dan, kapan tamu-tamu itu akan datang aku hanya bisa menunggu. Sebelum dahan-dahanku mengering dan menjalar pada batang pohon hingga aku mati aku tidak pernah akan bosan-bosannya.
Dengan kalimat lain, aku hanya bisa berdiam diri menunggu keputusan Tuhan yang Maha Pemberi Kehidupan dan pada saatnya Ia-lah yang paling berhak untuk mengambil yang diberikan-Nya.
Menunggu. Menunggu keduanya: orang mati atau aku tak bisa lagi menjadi saksi rombongan pelayat jenazah. Diiringi oleh banyak orang yang bagi manusia jaman ini sebagai penghormatan atau sedikit saja aku tak peduli. Yang harus aku lakukan tak lain menyiapkan bebungaku untuk ditaburkan disaat pekuburan ini sepi dan hening dari lalu lalang. Ah, aku terlalu banyak bicara. Padahal aku harus kembali melihat perempuan itu.
**
Perempuan itu membetulkan letak kerudung yang hanya menutupi sebagian rambutnya. Dia pun kembali berdo’a. “Pah, Alhamdulillah, aku juga kini sudah menjadi Islam tahun ini. Sama sepertimu, namaku kini bukan Theresia Margaretha lagi, tapi Siti Maryam Margaretha. Aku akan berjanji Pah, jika Allah kembali memberikan kesempatan kepadaku hingga Ramadhan nanti aku akan kembali mengunjungimu. Ya Allah, Tuhanku ampunilah dosa-dosa suamiku dosaku, dosa anak-anakku dan dosa menantuku. Amin.”
Amei kembali mengingatkan mamahnya. “Mah, ayo nanti keburu sore,” ajaknya kembali sambil membangkitkan mamahnya dan menuntunnya. Merekapun akhirnya berlalu meninggalkan kuburan di kawasan Pegambiran Cirebon itu. Kini, yang tinggal disini hanya bunga campur berserakan dengan semerbak bau wangi menyengat. Pada kuburan lain juga serupa. Semua penziarah sibuk membersihkannya. Dan tentunya teman-temanku sesama Kamboja selalu menyaksikan pemandangan seperti ini setiap tahun.
Selepas kepergian mereka, suasana kuburan “Ahmad Johny Lee” yang berada persis dibawahku kembali hening. Bahkan menjelang tenggalamnya matahari semua kembali seperti sedia kala. Semua menjadi bisu. Kecuali desiran angin yang berhembus dan mulai terdengar mendesah setelah tak ada lalu lalang manusia disini. Bebungaku yang pucat kembali terjatuh bertebaran. Sebagian berbaur dengan bunga campur yang masih tampak basah. Memang, pada hari-hari ini, keberadaanku tak selalu diperhitungkan. Bebungaku yang pucat selalu disingkirkan karena bunga campur berwarna-warni akan ditaburkan.
**
Setahun berlalu. Kini memasuki Ramadhan di tahun 2003. Pada awal Nopember penziarah pekuburan ini kembali ramai. Kuburan di kanan kiriku, semua sudah bertabur bunga campur. Yang membuatku heran, kuburan yang di bawah naunganku masih terlihat belum ada yang menziarahi. Jangankan taburan bunga, rerumputan memenuhi kuburan itu tak ada yang membersihkan.
Perempuan cantik setengah baya yang setiap tahun berkunjung kesini hingga di hari-hari terakhir Ramadhan belum kelihatan. Tentunya selain aku hanya bisa menunggu paling hebat cuma mengira-ngira. Apakah perempuan setengah baya yang kini mungkin sudah menikah dengan Om Harry sudah lupa dengan kuburan suaminya. Atau ada sebab lain, entah.
Alangkah kasihan nisan bertuliskan “Ahmad Johny Lee” itu. Apakah do’a istrinya tahun lalu akan menjadi do’a terakhir? Mana aku tahu. Aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya menunggu.
Tiba-tiba betapa herannya aku. Seorang laki-laki tua, berusia sekitar 50 tahun tergopoh-gopoh sambil membawa bungkusan hitam. Kelihatannya dia diantar oleh penjaga kuburan. “Pak dimana ya kuburan Pak Johny. Saya disuruh majikan saya untuk menaburkan bunga dikuburannya,” ujar lelaki tua itu.
“Bapak cari saja sendiri, tinggal dilihat saja tulisan di nisannya yg bertuiskan Johny itu. Saya hanya bisa mengantar bapak disini maaf ya pak sekarang sudah sore saya harus membersihkan sampah yang ada di kuburan yang baru saja dibersihkan oleh keluarganya,” jawab penjaga kuburan itu.
Tapi sebelum bergegas penjaga kuburan itu sempat bertanya, “Memangnya majikan bapak sibuk sekali, sampai-sampai menziarahi kuburan saja harus menyuruh orang lain?”
“Sebenarnya saya kesini juga sembunyi-sembunyi pak disuruh istri majikan saya Ibu Maryam yang dulunya istri Pak Johny itu. Beliau pinginnya kesini sendiri tetapi suaminya Pak Harry melarangnya. Katanya, ia cemburu kalau Ibu Maryam masih terus mengingat suaminya makanya berkunjung ke kuburannya saja dilarang,” jawab Pak tua itu. Penjaga kuburan itu pun berlalu.
Hari semakin senja. Pak tua itu pun kaget. “Aduh, bodoh sekali saya kan tidak bisa membaca. Mengapa tadi saya tidak minta tolong ke penjaga tadi,” gumamnya. Ia pun melirik kekanan dan kekiri. Pak tua itu berjalan kesana kemari mencari seseoang untuk membantunya membaca nisan bertuliskan “Ahmad Johny Lee”.
Melihatnya aku ingin menunjukkannya bahwa yang dia cari ada dibawahku. Tapi aku tak bisa berkata apa-apa. Kelihatannya Pak Tua itu sudah putus asa. Dia pun meninggalkan area pekuburan. Bungkusan yang isinya mungkin bunga campur ia taburkan seenaknya sampai dia pun lenyap setelah melewati tikungan.
Aku melihat sekeliling. Melihat seluruh kuburan tampak bersih dan bertebaran bunga cmpur. Aku menjadi iba. Sore ini suasana teramat hening dan tak ada satupun orang di area pekuburan. Dengan sekuat tenaga meskipun tanpa ada angin aku mencoba merontokkan seluruh bebungaku. Ribuan bungaku aku rontokkan untuk menaburi kuburan dibawahku ini.
Akupun kelelahan, tapi tak sia-sia. Kuburan dibawahku sekarang sudah dipenuhi bunga Kamboja sampai menjulang hingga tak ada satu kuburan pun disana yang ditaburi bunga sebanyak itu. Selanjutnya dengan kelelahan ini aku beristirahat, apalagi sepertinya kini aku merasakan sakit dan rapuh.
Pagi pun tiba. Dengan kondisiku yang semakin lemah aku saksikan serombongan orang menuju kesini. Meski remang-remang aku masih bisa melihatnya. Oh, ternyata dia perempuan itu, Ibu Maryam dia dipapah oleh laki-laki tinggi dan gagah. Dibelakangnya ada anak dan menantunya, Amei dan laki-laki yang berkulit sawo matang serta tiga anak remaja, dua laki-laki dan satu perempuan.
Perempuan itu, kelihatan lelah. “Mas Harry kuburan Papah ada disekitar sini,” ujarnya. Laki-laki itu langsung mencari-cari dan tidak ditemukannya. Lagi-lagi, aku tak bisa menunjukkannya apalagi kondisiku yang rapuh seperti ini. Tampaknya, perempuan itu sudah tidak kuat lagi menahan sakitnya. Aku pun berusaha sekuat tenaga untuk meminggirkan tumpukan bebungaku yang menutupi kuburan yang dicari.
Saat aku berusaha sekuat tenaga saat hampir berhasil, kulihat perempuan itu sudah termangu. Bersamaan itu pula akupun sudah merasa tidak kuat lagi, dan saat itu sepertinya Tuhan akan memanggilku. Ketika hembusan nafas terkhirku yang panjang seluruh bebunga itu menghilang, hingga nisan itu pun bisa terbaca. “Mama….ini Ma.. .kuburannya,” teriak lelaki tegap itu. Tapi perempuan itu sudah tak menghembuskan nafas lagi. Saat aku sudah melihat bayangan malaikat menjemputku, kulihat roh perempuan itu tersenyum padaku. Dan dia pergi bersama angin.(*)

Kalitanjung-Cirebon, 17 Nopember 2003

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.