Elegi Aceh
Puluhan ribuan nyawa terhempas
samudra memuntahkan airnya mengganas
Bertumpuk mayat menjadi tangis menyayat
Tanah Rencong melagukan sepi, sunyi
Hanya nyanyian Gagak bersemilir
bersama anyir darah dan mayat menyengat.
O, tak perlu tragedi 26 Desember itu diperdebatkan
pertanyakankanlah, apa yang bisa diperbuat tangan kita?
Duka Aceh dan Sumtara adalah duka kita
derita anak-anak tak berayah-bunda,
semoga memanggil jiwa kita. Merasa bersama
dalam ikatan saudara, sebendera, sebangsa.
Mohamad Joharudin, Cirebon, 28 Desember 2004
Jenazah Jenazah
Serambi Mekahku, tanpa Seudati
Gelak-tawa bayi menjadi tangis meringis
anak-anak tanpa dosa telah Kau panggil
mereka bernamakan syuhada kecil
beribu jenazah diliput tanah
menanda duka, meluka menganga
apalah daya, sanak mereka juga berduka
menahan dahaga, bangkitpun bersisa tenaga
wahai engkau saudara, sesama
ketukkan hati dan jiwa
inilah saat tepat untuk berbuat
dan membuktikan: kita ini manusia
Mohamad Joharudin, Cirebon, 29 Desember 2004
Nisan Tanpa Nama
Ini sebuah tragedi,
Tanah membelah, menjelma Tsunami
Bah itu meluluh-lantakkan, menerjang
sungguh kuasa Tuhan tak bisa terelakkan
Tanpa hitungan hari, senyum menjadi ratapan
memilu, menyenandung kidung kematian
di bumi konflik itu telah banjir darah
kini menghampar jenazah serupa tanah
menunggu giliran, berharap dipedulikan
dalam kebisuan jasad-jasad yang melepuh
tak bisa disebutkan, siapa namanya
nisan mereka tak akan pernah ada yang mengenalinya
Mohamad Joharudin, Cirebon, 30 Desember 2004
Mimpi Sang Penolong
:aceh
menyeret kedua kaki searah jalur matahari
menghirup oksigen berpolusi bangkai
kemana mengarahkan kaki?
“kami ingin menghirup udara dan seteguk air.”
guratan bekas airmata menggurat wajah memucat
mata yang suram, menyapu pandang:
adakah sanak diantara tumpukan mayat itu-
bersisakah harapan kehidupan bagi orang-orang tercinta?
O, kepedihan ini tak pernah terpikirkan
kegaduhan sudah semakin membosankan
peraduan mereka diselimuti langit
satu yang menolong, melupakan semua: disaat sekejap bermimpi
Mohamad Joharudin, 2004
Doa Mohon Kematian
Di bumi-Mu itu selalu menyemerbakan aroma mesiu
tanah surga telah menghidupi penguasa-penguasa,
licinkan jalan, julangkan gedung dari tanah yang terhisap.
Ketidakadilan telah melahirkan perlawanan-
perang saudara menjadi drama tak berkesudahan.
Di bumi-Mu kini diharumi wangi mayat bayi
sehingga hentakan sepatu boot itu akhirnya harus dihentikan
tapi, apakah hanya dengan jalan ini?
O, wahai Sang Pemilik Bencana, ingatkan mereka!
para pemegang kebijakan, untuk temukan kebajikan
Di Bumi-Mu yang berubah menghitam
oleh nanah dan air liur puluhan ribu mayat
O, gusti Sang Pemberi Anugerah, kami sudah payah
cukupkanlah, cukupkan Kau hadirkan tanda-tanda
pertemukan kami dengan-Mu dalam kelaziman.
Mohamad Joharudin, 1 Januari 2005
Air Mata, Tanah Air Kami
Belum kering nian air mata kami
Mengguratkan ratusan ribu korban Tsunami
Dari Aceh yang kian sepi, tanpa Seudati
Dan gempa di Nias telah menumpahkannya lagi
Di bumi-Mu, air mata, tanah air kami
Beribu tangis mengiris, dari mereka yang meringis
Adakah perlu menunggu tanda-tanda lain?
Untuk kembali mengingatkan kita
Sudah cukup kami menangis
Apalagi kelopak ini telah begitu kelelahan
Mengaliri air mata dari tragedi, mati
Disini, air mata, tanah air kami.
Mohamad Joharudin, 29 Maret 2005