Elegi Aceh (Kumpulan Puisi untuk Aceh)

Januari 19, 2008

Elegi Aceh

Puluhan ribuan nyawa terhempas

samudra memuntahkan airnya mengganas

Bertumpuk mayat menjadi tangis menyayat

Tanah Rencong melagukan sepi, sunyi

Hanya nyanyian Gagak bersemilir

bersama anyir darah dan mayat menyengat.

O, tak perlu tragedi 26 Desember itu diperdebatkan

pertanyakankanlah, apa yang bisa diperbuat tangan kita?

Duka Aceh dan Sumtara adalah duka kita

derita anak-anak tak berayah-bunda,

semoga memanggil jiwa kita. Merasa bersama

dalam ikatan saudara, sebendera, sebangsa.

Mohamad Joharudin, Cirebon, 28 Desember 2004

 

Jenazah Jenazah

Serambi Mekahku, tanpa Seudati

Gelak-tawa bayi menjadi tangis meringis

anak-anak tanpa dosa telah Kau panggil

mereka bernamakan syuhada kecil

beribu jenazah diliput tanah

menanda duka, meluka menganga

apalah daya, sanak mereka juga berduka

menahan dahaga, bangkitpun bersisa tenaga

wahai engkau saudara, sesama

ketukkan hati dan jiwa

inilah saat tepat untuk berbuat

dan membuktikan: kita ini manusia

Mohamad Joharudin, Cirebon, 29 Desember 2004

 

Nisan Tanpa Nama

Ini sebuah tragedi,

Tanah membelah, menjelma Tsunami

Bah itu meluluh-lantakkan, menerjang

sungguh kuasa Tuhan tak bisa terelakkan

Tanpa hitungan hari, senyum menjadi ratapan

memilu, menyenandung kidung kematian

di bumi konflik itu telah banjir darah

kini menghampar jenazah serupa tanah

menunggu giliran, berharap dipedulikan

dalam kebisuan jasad-jasad yang melepuh

tak bisa disebutkan, siapa namanya

nisan mereka tak akan pernah ada yang mengenalinya

Mohamad Joharudin, Cirebon, 30 Desember 2004

 

Mimpi Sang Penolong

:aceh

menyeret kedua kaki searah jalur matahari

menghirup oksigen berpolusi bangkai

kemana mengarahkan kaki?

“kami ingin menghirup udara dan seteguk air.”

guratan bekas airmata menggurat wajah memucat

mata yang suram, menyapu pandang:

adakah sanak diantara tumpukan mayat itu-

bersisakah harapan kehidupan bagi orang-orang tercinta?

O, kepedihan ini tak pernah terpikirkan

kegaduhan sudah semakin membosankan

peraduan mereka diselimuti langit

satu yang menolong, melupakan semua: disaat sekejap bermimpi

Mohamad Joharudin, 2004

 

 Doa Mohon Kematian

Di bumi-Mu itu selalu menyemerbakan aroma mesiu

tanah surga telah menghidupi penguasa-penguasa,

licinkan jalan, julangkan gedung dari tanah yang terhisap.

Ketidakadilan telah melahirkan perlawanan-

perang saudara menjadi drama tak berkesudahan.

Di bumi-Mu kini diharumi wangi mayat bayi

sehingga hentakan sepatu boot itu akhirnya harus dihentikan

tapi, apakah hanya dengan jalan ini?

O, wahai Sang Pemilik Bencana, ingatkan mereka!

para pemegang kebijakan, untuk temukan kebajikan

Di Bumi-Mu yang berubah menghitam

oleh nanah dan air liur puluhan ribu mayat

O, gusti Sang Pemberi Anugerah, kami sudah payah

cukupkanlah, cukupkan Kau hadirkan tanda-tanda

pertemukan kami dengan-Mu dalam kelaziman.

Mohamad Joharudin, 1 Januari 2005

 

Air Mata, Tanah Air Kami

Belum kering nian air mata kami

Mengguratkan ratusan ribu korban Tsunami

Dari Aceh yang kian sepi, tanpa Seudati

Dan gempa di Nias telah menumpahkannya lagi

Di bumi-Mu, air mata, tanah air kami

Beribu tangis mengiris, dari mereka yang meringis

Adakah perlu menunggu tanda-tanda lain?

Untuk kembali mengingatkan kita

Sudah cukup kami menangis

Apalagi kelopak ini telah begitu kelelahan

Mengaliri air mata dari tragedi, mati

Disini, air mata, tanah air kami.

Mohamad Joharudin, 29 Maret 2005

mohamad joharudin & juwita

Januari 19, 2008

my lovely

Mata Air Kehidupan

Januari 19, 2008

Raga yang bergerak mengikuti arah jiwa

selalu dahaga meski telah singgahi sejuta oase

dimana titik akhir ia bisa menambatkan diri?

ketika ia telah menemukan mata air kehidupan.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.